Pendidikan Sebenarnya
by Prof Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. *
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti
Minggu, 18 Maret 2012
Senin, 14 November 2011
PLAIN WHITE T'S - 1,2,3,4
give me more lovin then i've ever had.
make it all better when i'm feelin sad.
tell me that i'm special even when i know i'm not.
make me feel good when i hurt so bad.
barely gettin mad,
im so glad i found you.
i love bein around you.
you make it easy,
as easy as 1 2,(1 2 3 4.)
theres only one thing two do three words four you.
i love you.
(i love you)
theres only one way two say those three words
and that's what i'll do.
i love you.
(i love you)
give me more lovin from the very start.
piece me back together when i fall apart.
tell me things you never even tell your closest friends.
make me feel good when i hurt so bad.
best that i've had.
im so glad that i found you.
i love bein around you.
you make it easy as easy as 1 2,(1 2 3 4.)
theres only one thing two do three words four you.
i love you.
(i love you)
theres only one way two say those three words
and that's what i'll do.
i love you.i love you
(i love you)
you make it easy, its easy as 1234
theres only one thing two do three words four you i love you
(i love you)
theres only one way two say those three words
thats what ill do i love you
(i love you)
i love you i love you.
one two three four i love you.
(i love you)
make it all better when i'm feelin sad.
tell me that i'm special even when i know i'm not.
make me feel good when i hurt so bad.
barely gettin mad,
im so glad i found you.
i love bein around you.
you make it easy,
as easy as 1 2,(1 2 3 4.)
theres only one thing two do three words four you.
i love you.
(i love you)
theres only one way two say those three words
and that's what i'll do.
i love you.
(i love you)
give me more lovin from the very start.
piece me back together when i fall apart.
tell me things you never even tell your closest friends.
make me feel good when i hurt so bad.
best that i've had.
im so glad that i found you.
i love bein around you.
you make it easy as easy as 1 2,(1 2 3 4.)
theres only one thing two do three words four you.
i love you.
(i love you)
theres only one way two say those three words
and that's what i'll do.
i love you.i love you
(i love you)
you make it easy, its easy as 1234
theres only one thing two do three words four you i love you
(i love you)
theres only one way two say those three words
thats what ill do i love you
(i love you)
i love you i love you.
one two three four i love you.
(i love you)
Berhentilah Mengeluh…
Coba renungkan penyampaian ini sebelum Anda mulai mengeluhkan berbagai hal yang terjadi dalam hidup Anda…
01]. Hari ini sebelum Anda mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
02]. Sebelum Anda mengeluh tentang rasa dari makanan yang Anda santap,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
03]. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.
04]. Sebelum Anda mengeluh bahwa Anda buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
05]. Sebelum Anda mengeluh tentang suami atau istri Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.
06]. Hari ini sebelum Anda mengeluh tentang hidup Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
07]. Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak Anda
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
08]. Sebelum Anda mengeluh tentang rumah Anda yang kotor karena pembantu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
09]. Sebelum Anda mengeluh tentang jauhnya Anda telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
10]. Dan di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaan Anda,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11]. Sebelum Anda menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa,,,
12]. Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika Anda sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Anda masih hidup !
a. Life is a gift
b. Live it…
c. Enjoy it…
d. Celebrate it…
e. And fulfill it.
13]. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu
14]. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan
15]. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
Mereka cantik/tampan karena Anda mencintainya,,,
16]. It’s true you don’t know what you’ve got until it’s gone,
but it’s also true You don’t know what you’ve been missing until it arrives!!!
Jadi……..berhentilah mengeluh, hadapilah manis pahitnya hidup dengan bersyukur terhadap semua yang telah Tuhan berikan….
01]. Hari ini sebelum Anda mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
02]. Sebelum Anda mengeluh tentang rasa dari makanan yang Anda santap,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
03]. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.
04]. Sebelum Anda mengeluh bahwa Anda buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
05]. Sebelum Anda mengeluh tentang suami atau istri Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.
06]. Hari ini sebelum Anda mengeluh tentang hidup Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
07]. Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak Anda
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
08]. Sebelum Anda mengeluh tentang rumah Anda yang kotor karena pembantu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
09]. Sebelum Anda mengeluh tentang jauhnya Anda telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
10]. Dan di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaan Anda,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11]. Sebelum Anda menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa,,,
12]. Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika Anda sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Anda masih hidup !
a. Life is a gift
b. Live it…
c. Enjoy it…
d. Celebrate it…
e. And fulfill it.
13]. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu
14]. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan
15]. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
Mereka cantik/tampan karena Anda mencintainya,,,
16]. It’s true you don’t know what you’ve got until it’s gone,
but it’s also true You don’t know what you’ve been missing until it arrives!!!
Jadi……..berhentilah mengeluh, hadapilah manis pahitnya hidup dengan bersyukur terhadap semua yang telah Tuhan berikan….
Harapan
Kutulis surat ini Diandraku, ketika pagi beranjak naik, embun terhapus terik, dan berbagai peristiwa hidup mulai berjejalan dalam detik. Apa yang kita harapkan dari waktu ini Diandraku? Dulu, ketika kau dan aku masih bebas bermain di pematang, hidup tidak serumit seperti yang kita hadapi sekarang. Kita pun bisa menjawab bahwa harapan kita dari waktu adalah menjadi tua. Pikiran kita mengatakan bahwa menjadi tua adalah menjadi bebas untuk bermain apa saja. Barangkali pikiran kita salah, tapi harapan kita dari waktu saat itu cukup membuat segalanya menjadi mudah.
Lalu, di usia kita sekarang, kita pun mengerti; menjadi tua adalah menjadi tidak sederhana. Menjadi tua tidak semata menjadi benar dengan sendirinya, terutama ketika setiap kepala memiliki gagasan yang berbeda. Menjadi tua adalah menjadi penanda dalam kejadian hidup, dan dus bagaimana merumuskan maknanya. Itulah yang membuat harapan tidak selalu menjadi sebab bahagia.
Setiap diri terkungkung oleh pikirannya sendiri. Hal ini kemudian menjadikan harapan dalam diam menguap pelan-pelan. Dan itu jarang kita sadari. Kita terlahir dengan kewajiban untuk mencari kegiatan. Tapi tujuannya tidak pernah sudah ditentukan; ia harus kita rumuskan. Tujuan inilah yang menjadi sumber harapan. Diandraku, mungkin kau mengerti mengapa orang bisa patah arang ketika tujuan tak pernah didapatkan. Ia hilang harapan, sementara merumuskan harapan baru berarti memikul beban sekarang dan sesal dulu.
Kutulis surat ini Diandraku, ketika pagi bisa saja mendadak senja, karena waktu tidak membuat kita sempat membubuhkan harapan pada peristiwa. Lalu, usia pun kembali tenggelam dalam aksara yang hanya kita eja lewat dendam dan luka. Apa yang menjadikan kita belum juga membunuh diri hari ini, Diandraku? Kupikir ada suatu entah yang masih kita rindukan, yang menahan keberanian kita untuk menutup hitungan usia dengan menggantung diri. Barangkali itulah harapan, yang malu menampilkan wajahnya, namun masih tercium aromanya. Kita tidak mengenalnya, namun ia memanggil kita untuk terus melangkah. Meski tujuan pudar sudah, dan tidak ada lagi ruang untuk kita berbenah.
Aku bukan orang yang terlahir baik, Diandraku. Aku terlahir untuk berjuang menjadi baik, yang itu bisa saja terlihat buruk bagi mereka yang berbeda niat denganku. Karena itulah aku mencintaimu. Pun ketika hatimu masih saja ragu menerima adaku. Namun, aku mencintaimu. Sebab ia yang membuatku tetap menyadari ada yang berharga dari duniaku. Dan itulah kebaikanku.
Hidup ini singkat Diandraku. Seperti kilatan waktu yang tak pernah kita rasakan ia berlalu. Dan itu seringkali membuat segalanya semu. Namun, senja itu, ketika pertama kita bertemu, mungkin satu-satunya lipatan masa yang entah kenapa terus mengakar nuansanya di hatiku. Ternyata, jika kau ijinkan, aku ingin menyebut bahwa ada yang tidak bisa dibunuh oleh sang waktu; ialah kenangan. Pun demikian dengan harapan. Keduanya saling bertautan dalam jalinan yang menjadikan hari senantiasa ada belas kasihan.
Dan kutulis surat ini Diandraku, ketika aku merasa harus ada yang berlanjut dari harapan. Pun itu hanya bisa tersiratkan dalam tulisan.
Lalu, di usia kita sekarang, kita pun mengerti; menjadi tua adalah menjadi tidak sederhana. Menjadi tua tidak semata menjadi benar dengan sendirinya, terutama ketika setiap kepala memiliki gagasan yang berbeda. Menjadi tua adalah menjadi penanda dalam kejadian hidup, dan dus bagaimana merumuskan maknanya. Itulah yang membuat harapan tidak selalu menjadi sebab bahagia.
Setiap diri terkungkung oleh pikirannya sendiri. Hal ini kemudian menjadikan harapan dalam diam menguap pelan-pelan. Dan itu jarang kita sadari. Kita terlahir dengan kewajiban untuk mencari kegiatan. Tapi tujuannya tidak pernah sudah ditentukan; ia harus kita rumuskan. Tujuan inilah yang menjadi sumber harapan. Diandraku, mungkin kau mengerti mengapa orang bisa patah arang ketika tujuan tak pernah didapatkan. Ia hilang harapan, sementara merumuskan harapan baru berarti memikul beban sekarang dan sesal dulu.
Kutulis surat ini Diandraku, ketika pagi bisa saja mendadak senja, karena waktu tidak membuat kita sempat membubuhkan harapan pada peristiwa. Lalu, usia pun kembali tenggelam dalam aksara yang hanya kita eja lewat dendam dan luka. Apa yang menjadikan kita belum juga membunuh diri hari ini, Diandraku? Kupikir ada suatu entah yang masih kita rindukan, yang menahan keberanian kita untuk menutup hitungan usia dengan menggantung diri. Barangkali itulah harapan, yang malu menampilkan wajahnya, namun masih tercium aromanya. Kita tidak mengenalnya, namun ia memanggil kita untuk terus melangkah. Meski tujuan pudar sudah, dan tidak ada lagi ruang untuk kita berbenah.
Aku bukan orang yang terlahir baik, Diandraku. Aku terlahir untuk berjuang menjadi baik, yang itu bisa saja terlihat buruk bagi mereka yang berbeda niat denganku. Karena itulah aku mencintaimu. Pun ketika hatimu masih saja ragu menerima adaku. Namun, aku mencintaimu. Sebab ia yang membuatku tetap menyadari ada yang berharga dari duniaku. Dan itulah kebaikanku.
Hidup ini singkat Diandraku. Seperti kilatan waktu yang tak pernah kita rasakan ia berlalu. Dan itu seringkali membuat segalanya semu. Namun, senja itu, ketika pertama kita bertemu, mungkin satu-satunya lipatan masa yang entah kenapa terus mengakar nuansanya di hatiku. Ternyata, jika kau ijinkan, aku ingin menyebut bahwa ada yang tidak bisa dibunuh oleh sang waktu; ialah kenangan. Pun demikian dengan harapan. Keduanya saling bertautan dalam jalinan yang menjadikan hari senantiasa ada belas kasihan.
Dan kutulis surat ini Diandraku, ketika aku merasa harus ada yang berlanjut dari harapan. Pun itu hanya bisa tersiratkan dalam tulisan.
Kembali
Ya ALLAH aq sangat berharap dia bisa kembali pada ku
Aq bener-bener mencintai dya
Kenapa di saat dya sudah tidak punya pacar lagi dya sudah mempunyai orang yang di cinta nya?
Kenapa bukan aq lagi yang di cinta nya?
Aq berharap sekali kalo aq yang akan di cintai nya lagi bukan orang lain
Aq bener-bener berharap bisa kembali pada nya
Cinta ku sangat besar kepada nya
Jika engkau mendengar doa ku ini aq harap kau mengabulkan nya TUHAN :(
Aq bener-bener mencintai dya
Kenapa di saat dya sudah tidak punya pacar lagi dya sudah mempunyai orang yang di cinta nya?
Kenapa bukan aq lagi yang di cinta nya?
Aq berharap sekali kalo aq yang akan di cintai nya lagi bukan orang lain
Aq bener-bener berharap bisa kembali pada nya
Cinta ku sangat besar kepada nya
Jika engkau mendengar doa ku ini aq harap kau mengabulkan nya TUHAN :(
kisah si pensil dan penghapus...
Pensil : "Maafkan aku Penghapus..."
Penghapus : "Maafkan aku??untuk apa Pensil?? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku..."
Pensil : "Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat..."
Penghapus : "Hal itu memang benar...Namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru.
Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih..."
Si Penghapus adalah Orang Tua kita...
Si Pensil adalah diri kita sendiri....
Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya...
Untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya...
Namun, terkadang, seiring berjalannya waktu...
Orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin kecil...
(Bertambah tua dan akhirnya meninggal).
Walaupun anak-anak mereka pada akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (Suami atau Istri),
Namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.
"Hingga saat ini...
Saya masih menjadi Si Pensil...
Hal itu sangat menyakitkan diri saya...
Melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah "Kecil" dan "Kecil" seiring berjalannya waktu.
Kelak suatu hari...
Yang tertinggal hanyalah "Serutan" si penghapus
Segala kenangan yang pernah saya lalui dan miliki bersama mereka..."
Kisah ini saya dedikasikan secara khusus kepada orang tua saya dan seluruh orang tua kalian...
Penghapus : "Maafkan aku??untuk apa Pensil?? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku..."
Pensil : "Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat..."
Penghapus : "Hal itu memang benar...Namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru.
Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih..."
Si Penghapus adalah Orang Tua kita...
Si Pensil adalah diri kita sendiri....
Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya...
Untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya...
Namun, terkadang, seiring berjalannya waktu...
Orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin kecil...
(Bertambah tua dan akhirnya meninggal).
Walaupun anak-anak mereka pada akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (Suami atau Istri),
Namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.
"Hingga saat ini...
Saya masih menjadi Si Pensil...
Hal itu sangat menyakitkan diri saya...
Melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah "Kecil" dan "Kecil" seiring berjalannya waktu.
Kelak suatu hari...
Yang tertinggal hanyalah "Serutan" si penghapus
Segala kenangan yang pernah saya lalui dan miliki bersama mereka..."
Kisah ini saya dedikasikan secara khusus kepada orang tua saya dan seluruh orang tua kalian...
My words
If I'm in turmoil, the feeling inferior to their more experienced than me, then made haste to act, and many-many are doing good I can do.
The only way to become experienced, is to do.
Signs that I'm late or less act, are the things that had I SHOULD do, turn into you MUST do.
I'm young people who refuse to be treated less than honorable, then praise me for the honor.
Soon, I SHOULD do is to do, before it became a MUST.
I can do it. I'm the boss of my life.
The only way to become experienced, is to do.
Signs that I'm late or less act, are the things that had I SHOULD do, turn into you MUST do.
I'm young people who refuse to be treated less than honorable, then praise me for the honor.
Soon, I SHOULD do is to do, before it became a MUST.
I can do it. I'm the boss of my life.
Langganan:
Postingan (Atom)